Pengunjung

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

[Kritik] Madrasah Sebagai Kawasan 10 K dan Wiyata Mandala

Post a Comment


Madrasah yang kuat adalah madrasah yang mampu menerima kritik dari siapa pun sebagai nutrisi perkembangan bagi warganya, tanpa mengkambing-hitamkan yang lain. Oleh karena itu ijinkan kali ini saya berbicara program 10 K dari sudut pandang yang berbeda. Agar mampu memberikan masukan secara lebih mendalam dan menjadi acuan bagi madrasah untuk mengevaluasi. Karena barangkali kesempatan untuk bertatap muka antara wali murid terhadap sekolah sangat terbatas, maka saya memilih untuk mengkritik melalui tulisan singkat ini.



Tulisan ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, hypertensi, dan stroke, bahkan kematian. Oleh sebab itu disarankan sebelum membaca, untuk melapangkan dada dan tekanan baperisasi. Bacalah dari sudut pandang yang berbeda. Melihat penulis sebagai orang yang Anda kenal.

Madrasah sebagai kawasan wiyata mandala. Setiap madrasah tentu memiliki cara pandang madrasah sebagai lingkungan pendidikan dan pembelajaran. Madrasah sebagai lingkungan pendidikan dan pembelajaran, maka:


  1. Madrasah mengemban misi pendidikan, oleh karena itu madrasah tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar pendidikan

  2. Madrasah harus benar-benar menjadi ciri khas masyarakat belajar di dalamnya

  3. Madrasah harus terus menerus menggali, mengenali, memahami, menyadari, menguasai, menghayati, dan menyampaikan nilai-nilai positif yang ada pada pada madrasah

  4. Madrasah harus menjadi keteladanan bagi masyarakat, karena misi pendidikannya itu




Kritik saya terhadap madrasah sebagai lingkungan pendidikan dan pembelajaran:

  • "Madrasah harus benar-benar menjadi ciri khas masyarakat belajar di dalamnya." Apakah seluruh warga madrasah telah benar-benar "Belajar" selama di lingkungan madrasah? Apakah yang dituntut untuk belajar itu hanya siswanya saja? Lalu bagaimana dengan gurunya? Bagaimana dengan kondisi, "Kucing-kucingan" saat jam pelajaran? Tidak murid, tidak pula gurunya. Tidak ada di kelas saat jam pelajaran. Dimana mereka menempatkan kata "BELAJAR?" Siswa yang seringkali tidak hadir, atau hadir tetapi tidak mengikuti pelajaran. Maka siap-siap menerima hukuman. Meskipun begitu, akan terulang kembali. Guru seringkali tidak ada kabar saat hari itu ada jam mengajar. Siswa terabaikan, setidaknya akan ada 25 siswa yang telah terdholimi karena tidak dapat menerima hak mereka untuk mendapatkan ilmu pada saat itu. Kritik saya kepada madrasah: "Mestinya hukuman tidak hanya diberikan kepada siswa. Siswa memiliki hak untuk belajar dan mendapatkan ilmu. Guru memiliki kewajiban untuk menyampaikan ilmu. Bagaimana suasana belajar tercipta manakala salah satu diantaranya tidak ada?"



  • "Madrasah harus terus menggali, mengenali, memahami, menyadari, menguasai, menghayati dan menyampaikan nilai-nilai positif yang ada pada madrasah." Saya akan memulai dengan pertanyaan yang sederhana, Apa keunggulan madrasah Anda? Bagaimana kita bisa mengamalkan nilai-nilai positif dari madrasah, sedangkan kita tidak menyadari nilai-nilainya? Bagaimana kita bisa menyadari kalau tidak pernah menggali dan mengenali nilai-nilai tersebut? Kalau setiap warga madrasah dapat menghayati nilai-nilai positif dari madrasah. Maka akan timbul rasa percaya diri siswa dan guru. Guru percaya dengan potensi siswanya, siswa percaya kepada guru dengan secercah harapan. Kritik saya kepada madrasah: "Mestinya madrasah menguatkan nilai-nilai budaya madrasah melalui teladan guru-gurunya. Menangani siswa yang melakukan penyimpangan tata tertib sekolah tidak lantas seperti "mengusir anak ayam." Beruntung anak masih mau datang ke madrasah, malah diusir suruh pulang. Kalau gurunya di madrasah saja tidak mau mendidik siswanya. Lantas siswa ini suruh belajar dengan siapa? Bagaimana nasib anak ini, jika semua guru memiliki pemikiran yang sama tidak mau mendidik anak tersebut? Saya membayangkan siswa tersebut anak saya, betapa malangnya nasib anakku. Pantas saja siswanya tidak bangga belajar di madrasah, karena gurunya saja tidak bangga dan tidak mampu membuat siswanya menjadi kebanggaan dirinya. Guru keseringan memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan penyimpangan dibandingjan dengan memberikan hadiah kepada siswa yang mampu menyelesaikan tantangan belajarnya. Tidak guru juga tidak siswa, Jika ada yang melakukan hal positif, berikanlah Hadiah! Paling tidak ucapan selamat dan tepuk tangan. Agar menambah rasa percaya diri dan nilai positif pada dirinya. Sehingga akan melakukan kebaikan dikemudian hari.



Tentu hal ini membutuhkan banyak peran dari pihak terkait, kepala madrasah, guru, siswa, civitas akademika, maupun komite. Semuanya harus bersinergi dalam satu semangat untuk melakukan perubahan dan memajukan madrasah. Kalau hanya dilakukan oleh salah satu unsur saja? Yah, omong kosong!


Madrasah Sebagai Kawasan 10 K



  1. Keamanan

  2. Kekeluargaan

  3. Kedisiplinan

  4. Kerindangan

  5. Kebersihan

  6. Keindahan

  7. Kelestarian

  8. Ketertiban

  9. Kesehatan

  10. Keteladanan




Kritik

  • Keamanan: aman dari kehilangan barang berharga, aman dari ancaman berbahaya. Pada saat pelajaran yang saat itu gurunya tidak ada, darimana anak memperoleh kemanan dari barang-barang berharganya seperti uang saku, atau mencari perlindungan dari ancaman teman yang berbahaya? Darimana hadir rasa aman dan nyaman saat belajar dan bermain di madrasah, saat tidak ada yang hadir sebagai sosok yang menjamin kemanan anak-anak selama di marasah. Saya sebagai wali murid, memberikan kepercayaan kepada madrasah untuk menjaga keamanan dan keselamatan anak selama di madrasah. Lantas, boleh dong saya menuntut madrasah ketika anak saya celaka karena kelalaian pengawasan dari madrasah? Tapi perlu juga kan, keamanan bagi guru saat mendidik siswa selama di madrasah?



  • Kekeluargaan: tolong menolong, saling menasehati, saling mengunjungi, berkumpul keluarga siswa dan guru. Jangankan akan mewujudkan kekeluargaan antara keluarga siswa berkumpul di satu tempat bersama keluarga madrasah. Antara guru saja masih suka berat dengan kepentingan pribadi. Berkumpul bersama guru dalam satu hari di madrasah saja masih banyak alasan pribadi yang lebih besar. Karena masih menganggap madrasah adalah tempat bekerja. Hanya mengajar, selesai mengajar pulang! Dimana akan terwujud kekeluargaan? Apalagi dengan orang tua siswa, barangkali saya sebagai wali murid akan ke sekolah pada saat: penerimaan siswa masuk madrasah, dan pelepasan siswa. Atau saat ada surat panggilan karena kasus anak. Selebihnya tidak pernah berkunjung ke madrasah, apalagi sampai kenal dengan guru di madrasah, bertemu saja tidak pernah. Bertemu wali kelas saja cuma saat ada surat panggilan. Seperti ini kok dibilang baik-baik saja. Mana ada hubungan baik-baik saja kalau tidak pernah berkomunikasi. Komunikasi Madrasah dengan orangbgua wali maupun dengan instansi terkait.



  • Kedisiplinan: Kehadiran, berpakaian, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Jangan marah dan jangan mencari pembenaran kalau ada siswa bilang, "lha, gurunya saja tidak disiplin" saat guru berusaha mendisiplinkan siswa. Siswa diminta hadir pukul 07.15 wib, guru datang pukul 07.30 wib. Siswa terlambat dihukum, gurunya? Siswa diminta untuk disiplin berpakaian, sebagian guru apatis terhadap kedisiplinan. Merancang kegiatan ekskul, mendata ekskul dan rekrutmen tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Tidak ada dukungan dan dorongan dari guru dan wali kelas. Tidak ada tindakan bagi siswa yang tidak mengikuti ekskul. So, darimana tercipta disiplin?



  • Kebersihan: Diri dan pakaian, Kelas, lingkungan. Jadwal piket salah satu upaya untuk melatih siswa agar menjaga lingkungan tetap bersih. Sayangnya, tidak ada tindak lanjut bagi siswa yang tidak melaksanakan piket kelas, maupun halaman. Kenapa? Tidak ada guru piket saat itu yang dapat menangani khusus siswa tersebut. Adapun guru piket berangkat siang, ada jam pelajaran, atau apatis terhadap kebersihan karena malas pusing. Alhasil, siswa yang terbiasa dengan tidak melaksanakan akan mengulanginya sampai menjadi kebiasaan.



  • Ketertiban: tidak bermain di dalam kelas dan masjid, tidak menggangu kelas, melaksanakan sholat berjamaah. Dasar sifat anak-anak yang suka bermain, yah wajar. Kalau saat tidak ada guru di dalam kelas akan membuat onar. Akan kecil kemungkinan saat di dalam kelas ada guru yang sedang mengajar, lalu siswa membuat keributan yang fatal. Darimana siswa akan memperoleh pelajaran tertib sholat berjamaah, manakala tidak ada guru yang membimbingnya? Siswanya disuruh sholat ke masjid. Gurunya asyik ngobrol dan main hp di kantor. Ada sekelomopok anak nongkrong menunggu gurunya, gurunya mencari pembelaan.



  • Keteladanan: Memungut sampah, Berpakaian Rapih dan bersih, Memberikan penghargaan/hadiah. Dari semua aspek yang dibahas bermuara pada satu titik. Yaitu Keteladanan. Siswa adalah peniru ulung. Apa yang kita tanamkan kepada siswa, kita contohkan, kita latih, itulah yang akan kita dapatkan. Namun perlu diketahui bahwa, antara keburukan dan kebaikan ibarat 1:10. 1 kali keburukan yang kita contohkan kepada siswa, akan langsung dierima. Tapi untuk memberikan kebaikan, kita perlu 10 kali pengulangan untuk bisa diterima oleh siswa. Maka dari itu, kalau ada guru yang merasa sudah menegur dan mengingatkan siswa, tetapi siswa belum kunjung berubah lalu menyerah. Maka tidak akan pernah menuai hasil dari kebaikannya. Keteladanan membutuhkan kesabaran. Kesabaran butuh dukungan. Maka dari itu, untuk mewujudkan itu semua berilah dukungan kepada sesama guru dan dukungan kepada siswa. Madrasah memberikan dukungan baik materi maupun non-materi.





Hal yang terjadi selama ini, masih ada guru yang menganggap nilai diatas kertas adalah segalanya. Anak dipaksa untuk menyelesaikan tugas yang barangkali ia tidak memiliki bakat dan minatnya disana. Anak dianggap tuntas dalam melaksanakan tugas, jika secara kognitif mereka mampu mencapai Ketuntasan Belajar Minimum (KBM). Tetapi seringkali guru di madrasah melupakan bahwa setiap individu memikiki kemampuan yang berbeda. Fokus pada nilai kognitif anak, tetapi lupa pada penilaian keterampilan dan afektif. Penilaian keterampilan dan afektif masih dipandang sebelah mata. Dianggap tidak penting. Jadi wajar, jika output madrasah yang seharusnya mencerminkan pada aspek afektif seperti Akhlakul karimah, Adab kepada orang lain, Sopan santun, kesadaran beribadah, dan teladan akhlak bagi anak yang sekolah di non madrasah serta sederet nilai afektif lainnya.

Sistem manajemen budaya di madrasah juga masih jauh dari layak. Dari garis birokrasi manajemen, yang berakibat pada hilangnya garis kewenangan dan tanggung jawab. Sehingga sosialisasi budaya madrasah tidak dapat tercapai. Hasilnya setiap guru dan siswa tidak dapat menentukan arah kemana mereka harus berjalan. Kemana arah kebijakan madrasah, yang harusnya tergambar pada visi dan misi madrasah. Dimana visi dan misi madrasah tidak pernah dievaluasi secara berkala. Apakah target tercapai, apakah visi dan misi masih relevan. Nampaknya hanya mengalir begitu saja.

Kurikukum madrasah pun hanya dibuat sebagai syarat administratif belaka. Dalam praktiknya, banyak ganjalan di tengah jalan. Pasalnya ketika guru diajak berdiskusi untuk membicarakan kurikulum, enggan menghadiri undangan. Pertemuan atau rapat sebenarnya menjadi salah satu upaya sosialisasi budaya madrasah. Terhadap sesuatu yang wajib saja masih berfikir ulang utuk dilakukan, bagaimana terhadap sesuatu yang tidak wajib?
Saya yakin masih ada guru madrasah yang peduli terhadap perkembangan madrasah sebagai benteng dari runtuhnya moral bangsa. Saya yakin masih ada guru madrasah yang memperhatikan value and culture. Nilai-nilai kehidupan dan siswa sebagai masyarakat yang berbudaya. Lebih memperhatikan afektif dan keterampilan dibandingkan menguasai pengetahuan saja. Saya yakin masih ada guru madrasah yang tidak hanya sekedar mengajar, kemudian terus pulang.



Dan semua itu tidak sekedar ide atau gagasan belaka, melainkan terwujud dalam praktiknya. Berapa banyak orang yang pandai dalam memberikan ide dan gagasan, tetapi gagal dalam praktiknya. Berapa banyak orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tetapi minim akhlak dan kecakapan hidup. Banyak orang yang suaranya ingin didengarkan khalayak, tetapi dirinya tidak mampu untuk menjadi pendengar yang baik.
Untuk menjadi GURU yang BAIK, maka harus menjadi MURID yang BAIK pula.



Demikian kritik saya kepada madrasah, mohon maaf jika terdapat pihak yang tidak berkenan. Hal ini saya sampaikan semata-mata untuk kemajuan madrasah. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sepenuhnya, saya menerima kritik dan saran balik dari tulisan ini.

- dbo
Mr. Desbud
Mr. Desbud
Media Pembelajar - Berisi informasi pendidikan, materi pembelajaran, pelatihan, seputar dunia pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi.

Related Posts

Post a Comment